Din: Ketetapan Muhammadiyah Mengenai 1 Syawwal Bukan Mengada-ada

Yogyakarta– Ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai 1 Syawal 1432H yang bertepatan dengan 30 Agustus 2011 merupakan murni karena pertimbangan keagamaan dan bukan hal yang mengada-ada.

Demikian disampaikan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin seusai memberikan Khotbah Idul Fitri di Alun-alun Keraton kota Yogyakarta, selasa (30/08/2011), “Karena ketetapan Muhammadiyah memang murni atas pertimabangan keagamaan, seharusnya Muhammadiyah diayomi pemerintah,” tegasnya. Din mengungkapkan, Sesuai Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 mengenai jaminan Negara dalam memeluk agama dan beribadat, tidak seharusnya pemerintah menetapkan mengenai 1 Syawwal, tetapi mempunyai hak penuh untuk menetapkan libur Idul Fitri. Lebih lanjut menurut Din, saat ini hampir semua negara-negara Islam di Timur Tengah, afrika, beberapa negara ASEAN, bahkan negara barat telah menetapkan 1 Syawwal 1432 H, jatuh pada 30 Agustus 2011.

Dalam Khotbah Idul Fitri di Alun-Akun Kota Yogyakarta, yang dihadiri puluhan ribu jamaah, Din menegaskan mengenai pentingnya umat Islam untuk menyeimbangkan antara jumlah dan kualitas manusianya. Kondisi bangsa yang masih berusaha bangkit, sudah seharusnya apa yang menjadi pelajaran selama Ramadhan dapat diaplikasikan pada bulan-bulan sesudahnya.

Iklan
Dipublikasi di berita | Meninggalkan komentar

Penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Soal penetapan Idul Fitri 1432 H

Terkait Adanya pertanyaan di kalangan beberapa orang anggota masyarakat tentang lebaran 1432 H, di mana puasanya dengan demikian hanya 29 hari, apakah itu sah? Jawabannya adalah bahwa Nabi saw dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa umur bulan itu 29 hari atau terkadang 30 hari. Jadi orang yang berpuasa 29 hari dan berlebaran besok adalah sah karena sudah berpuasa selama satu bulan. Secara astronomis, pada hari ini, Senin 29 Agustus 2011, Bulan di langit telah berkonjungsi (ijtimak), yaitu telah mengitari bumi satu putaran penuh, pada pukul 10:05 tadi pagi. Dengan demikian bulan Ramadan telah berusia satu bulan. Dalam hadis-hadis Nabi saw, antara lain bersumber dari Abu Hurairah dan Aisyah,  dinyatakan bahwa Nabi saw lebih banyak puasa Ramadan 29 hari daripada puasa 30 hari. Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

Mengenai dasar penetapan Idulfitri jatuh Selasa 30 Agustus 2011 adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria (1) Bulan di langit untuk bulan Ramadan telah genap memutari Bumi satu putaran pada jam 10:05 Senin hari ini, (2) genapnya satu putaran itu tercapai sebelum Matahari hari ini terbenam, dan (3) saat Matahari hari ini nanti sore terbenam, Bulan positif di atas ufuk.  Jadi dengan demikian, kriteria memasuki bulan baru telah terpenuhi. Kriteria ini tidak berdasarkan konsep penampakan. Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu. Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi.

Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:

  1. Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,
  2. Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan hisab.

Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:

  1. Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),
  2. Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat merukyat,
  3. Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.

Memang perlu dilakukan upaya untuk menyatukan sistem penanggalan umat Islam agar tidak lagi terjadi perbedaan-perbedaan yang memilukan ini. Untuk itu kita harus berani beralih dari rukyat (termasuk rukyat yang dihisab) kepada hisab. Di zaman Nabi saw rukyat memang tidak menimbulkan masalah karena umat Islam hanya menghuni Jazirah Arab saja dan belum ada orang Islam di luar jazirah Arab tersebut. Sehingga bila bulan terlihat atau tidak terlihat di jazirah Arab itu, tidak ada masalah dengan umat Islam di daerah lain lantaran di daerah itu belum ada umat Islam. Berbeda halnya dengan zaman sekarang, di mana umat Islam telah menghuni seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Apabila di suatu tempat hilal terlihat, maka mungkin sekali tidak terlihat di daerah lain. Karena tampakan hilal di atas muka bumi terbatas dan tidak meliputi seluruh muka bumi. Rukyat akan menimbulkan problem bila terjadi pada bulan Zulhijah tahun tertentu. Di Mekah terlihat, di Indonesia tidak terlihat, sehingga timbul masalah puasa Arafah.

Jadi oleh karena itu penyatuan itu perlu, dan penyatuan itu harus bersifat lintas negara karena adanya problem puasa Arafah. Artinya siapapun yang mencoba mengusulkan suatu sistem kalender pemersatu, maka kalender itu harus mampu menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan lain dunia agar puasa Arafah dapat dijatuhkan pada hari yang sama. Ini adalah tantangan para astronom Indonesia. Kita menyayangkan belum banyak yang mencoba memberikan perhatian terhadap penyatuan secara lintas negara ini. Perdebatan yang terjadi baru hanya soal kriteria awal bulan, yang itu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan masalah penyatuan kalender.

Sementara kita masih belum mampu menyatuakan penanggalan hijriah, maka bilamana terjadi perbedaan kita hendaknya mempunyai toleransi yang besar satu terhadap yang lain dan saling menghormati. Sembari kita terus berusaha mengupayakan penyatuan itu.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Empat Program Unggulan MPI

Rapat kerja nasional Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah yang berlangsung 1-3 Juli 2011 dikampus 3 UAD, Jl. Prof. DR. Soepomo, Janturan Yogyakarta hari ini (Sabtu, 2 Juli 2011) memasuki siding komisi dan pleno. Dari siding komisi, rakernas MPI merekomendasikan empat program unggulan MPI PP Muhammadiyah, untuk periode 2010-2015.

Keempat program unggulan itu, menurut Ketua MPI PP Muhammadiyah, H Muchlas, ST, MT adalah: 1. Pendirian Taman Pustaka Muhammadiyah di tingkat Cabang dan Ranting, 2. Pendirian Museum Muhammadiyah di tingkat Pusat dan Wilayah, 3. Pengembangan stasiun radio dan televisi di PDM dan PWM. Untuk radio minimal 30% dari jumlah PDM seluruh Indonesia dan lima stasiun televise di tingkat PWM, 4. Muhammadiyah Go Open Source (MUGOS) dengan tujuan meningkatkan kepedulian dan tanggungjawab Muhammadiyah terhadap penanggulangan pembajakan software di Indonesia melalui pengembangan program-program open source versi Muhammadiyah.

Selain itu rakernas juga memutuskan beberapa program regular yang harus dilakukan oleh MPI PWM dan PDM antara lain; pembuatan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) Online, pengelolaan website Muhammadiyah secara terintegrasi, pengembangan pengelolaan database Persyarikatan, pembentukan media centre tingkat Pusat dan Wilayah, serta pengembangan digital library. Dalam rakernas ini juga dilakukan pelatihan pengelolaan website dan pengoperasian pembuatan KTA Muhammadiyah online. (im)

Dipublikasi di berita | Meninggalkan komentar

Prof. Dr. Din Syamsuddin : MPI (Majlis Pustaka dan Informasi )Majukan Muhammadiyah

 

Yogyakarta(KR)- Bagi Muhammadiyah, kemajuan mendatang sangat ditentukan oleh pustaka dan informasi. Namun harus diakui, di bidang pustaka dan informasi Muhammadiyah masih tertinggal. Padahal dari pustaka dan informasi diharapkan mampu ikut menggerakan Muhammadiyah dan mendorong kebangkitan bagi Indonesia di massa mendatang.

Demikian di tegaskan Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua umum PP Muhammadiyah) saat membuka rapat kerja nasional (Rakernas) Majelis Pustaka dan Informasi (MPI)Pimpinan Pusat Muhammadiyah di kampus 3 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, jalan Soepomo, janturan, Jum’at (1/7/11). Tampak hadir dan memberi sambutan, Drs. H. Muchlas, M.T., (Ketua MPI PP Muhammadiyah), Dr. Swi Sulis Woro (Wakil Rektor 1 UAD). Rakernas bertema “Menggairahkan Tradisi Kepustakaan dan Optimalisasi Teknologi Informasi Sebagai Peningkata Daya Saing Persyarikatan” tersebut berlangsung hingga Minggu (3/7/11).

Menurut Din, pustaka dan informasi sebenarnya tidak lepas dari tradisi membaca. Padahal menggerakkan minat membaca dan minat beli buku di Indonesia bukan soal yang gampang. “boleh dikatakan justru gampang-gampang susah “, ucapnya. Pustaka dan informasi, pasti terjadi interaksi yang bernilai edukasi.

Untuk itulah, tugas MPI juga harus mampu menggerakan dan menggairahkan minat baca.”harus di akui, pernah terjadi kesalahan sejarah, yakni MPI pernah dibekukan di Jakarta tahun 2000,MPI diganti menjadi gerakan Ilmi,” tandasnya sambilmenyebutkan MPI di lingkungan Muhammadiyah berdiri 18 juni 1920.(jay)-a

Dipublikasi di berita | Meninggalkan komentar

Said Tuhuleley: Muhammadiyah Harus Lawan Ketidakadilan Kebijakan Pertanian Minggu, 07-08-2011

Yogyakarta- Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah, Said Tuhuleley mengngungkapkan, Impor bahan makanan yang tidak terkendali dan semakin sulitnya pertanian di Indonesia, serta turunnya produktivitas pertanian akibat kebijakan yang tidak pro terhadap petani Indonesia, seharusnya menjadi agenda Muhammadiyah dalam melawan kebijakan tersebut. Karena masih besarnya sektor pertanian yang masih menjadi tumpuan hidup rakyat Indonesia.

Pernyataan tersebut diungkapkan Said Tuhuleley dalam Seminar Nasional dan Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid dan Majelis Pendidikan Kader, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jl Ring Road Barat, kasihan Bantul, Ahad (07/08/2011). “Semua(masalah pertanian)nya bermuara pada kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap kaum tani di Indonesia, kita bosa melihat kebijakan Impor yang sangat menyengsarakan petani Indonesia, sehingga yang perlu awal dirubah adalah kebijakan tersebut,” tegasnya. Salah satu ekonom Indonesia Hendri Saparini yang juga menjadi pembicara dalam forum tersebut, juga menyepakati bahwa, kebijakan pemerintah Indonesia cenderung untuk menguntungkan para Importir dan kurang memperhatikan aspek pertanian Indonesia, sehingga menurutnya siapapun pemimpinnya apabila mampu dan mau merubah kebijakan yang ada, maka sebaiknya didukung seluruh elemen, termasuk muhammadiyah di dalamnya.

”Produk sayur kita juga mulai tergusur oleh produk Cina, sedangkan beras mulai terdominasi oleh beras Vietnam. Bahkan baru-baru ini ditemukan adanya impor ikan air tawar dari Cina,” ungkap Said. Sehingga dalam kasus tersebut, tidak bisa tidak, pemerintah harus yang mengambil kebijakan. ”Dalam kondisi seperti pemerintah perlu melakukan berbagai kebijakan dan  regulasi yang bertujuan melindungi para pelaku usaha di Indonesia. Mengingat, UKM dan pasar tradisional merupakan dua kelompok yang kini terancam dengan membanjirnya produk China ke Indonesia,” tegasnya.

Dipublikasi di berita | Meninggalkan komentar

Din Syamsuddin: Kejujuran Saat Ini Sudah Jadi Barang Mewah

Malang – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai, saat ini di Indonesia kejujuran telah menjadi barang mewah dan mahal, banyak kebohongan publik yang manjadi konsumsi rakyat banyak saat ini. Kebohongan juga telah melanda para pemangku amanat yang pada akhirnya mulai terkikisnya nurani bangsa.

Pendapat tersebut diungkapkan Din Syamsuddin saat memberikan pengajian dihadapan ribuan pengurus dan jamaah Muhammadiyah se Jawa Timur, pada acara Pengajian Pimpinan wilayah Muhammadiyah jawa Timur di Dome Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (13/08/2011). Menurut Din, ketidakjujuran yang melanda bangsa ini, telah menjadi masalah besar umat Islam. “Ketidakjujuran itu telah berkembang sebagai tindak kejahatan. Kemunkaran itu kemudian malah ditutupi oleh kemunkaran di atasnya. Seperti kebohongan memerlukan kebohongan untuk menutupi kebohongan di awal. Kelemahan-kelemahan ditutup-tutupi, dibungkus dengan hal yang seolah-olah lebih baik, padahal bersumber dari kebohongan,” jelasnya.

Ketidakjujuran menurut Din, mengkibatkan lunturnya kemuliaan harkat dan martabat Indonesia sebagai bangsa, hal tersebut jelas akan berpengaruh pada pergaulan Indonesia di tingkat Internasional, karena bangsa dan negara lain hanya akan menganggap Indonesia sebagai bangsa yang pebohong apabila nilai kejujuran tidak mulai diamalkan. Untuk itu Din Syamsuddin meminta warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya untuk kembali pada nilai Islam yang sangat menjujung tinggi kejujuran, “Bagi bangsa Indonesia yang belum bisa mencapai apa-apa perlu semangat kejujuran. Apalagi kita yang mayoritas Islam, yang penuh dengan nilai-nilai keutamaan. Kejujuran harus menjadi excellence values Muhammadiyah, menjadi ciri khas gerak langkah Muhammadiyah,” tegas Din.

Dipublikasi di berita | Meninggalkan komentar

Gambaran Umum

Organisasi Otonom Muhammadiyah ialah organisasi atau badan yang dibentuk oleh Persyarikatan Muhammadiyah yang dengan bimbingan dan pengawasan, diberi hak dan kewajiban untuk mengatur rumah tangga sendiri, membina warga Persyarikatan Muhammadiyah tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu pula dalam rangka mencapai maksud dan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah.

Struktur dan Kedudukan

Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah sebagai badan yang mempunyai otonomi dalam mengatur rumah tangga sendiri mempunyai jaringan struktur sebagaimana halnya dengan Muhammadiyah, mulai dari tingka pusat, tingkat propinsi, tingkat kabupaten, tingkat kecamatan, tingkat desa, dan kelompok-kelompok atau jama’ah – jama’ah. Ortom Muhammmadiyah dibentuk di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Mempunyai fungsi khusus dalam Persyarikatan Muhammadiyah

2. Mampunyai Potensi dan ruang lingkup nasional

3. Merupakan kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah

Pembentukan Ortom Muhammadiyah ditetapkan oleh Tanwir Muhammadiyah (Lembaga Permusyawaratan Tertinggi setelah Muktamar Muhammadiyah) dan dilaksanakan dengan Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Adapun tujuan pembentukan Ortom Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

1. Efisiensi dan efektifitas Persyarikatan Muhammadiyah

2. Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah

3. Dinamika Persyarikatan Muhammadiyah

4. Kaderisasi Persyarikatan Muhammadiyah Hak dan Kewajiban Dalam kedudukannya sebagai organisasi otonom yang mempunyai kewenangan mengatur rumah tangga sendiri, Ortom Muhammadiyah mempunyai hak dan kewajiban dalam Persyarikatan Muhammadiyah ialah sebagai berikut : 1. Melaksanakan Keputusan Persyarikatan Muhammadiyah 2. Menjaga nama baik Persyarikatan Muhammadiyah 3. Membina anggota-anggotanya menjadi warga dan anggota Persyarikatan Muhammadiyah ynag baik 4. Membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan sesama ortom 5. Melaporkan kegiatan-kegiatannya kepada pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah 6. Menyalurkan anggota-anggotanya dalam kegiatan gerak dan amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya Adapun hak yang dimiliki oleh Ortom Muhammadiyah ialah sebgai berikut : 1. Mengelola urusan kepentingan, aktivitas dan amal usaha yang dilakukan organisasi otonomnya 2. Berhubungan dengan organisasi/ Badan lain di luar Persyarikatan Muhammadiyah 3. Memberi saran kepada Persyarikatan Muhammadiyah baik diminta atau atas kemauan sendiri 4. Mengusahakan dan mengelola keuangan sendiri Organisasi Otonom dalam Persyarikatan Muhammadiyah Ortom dalam Persyarikatan Muhammadiyah mempunyai karakteristik dan spesifikasi bidang tertentu. Adapun Ortom dalam Persyarikatan Muhammadiyah yang sudah ada ialah sebagai berikut : 1. Aisyiyah 2. Pemuda Muhammadiyah 3. Nasyiyatul Aisyiyah 4. Ikatan Pelajar Muhammadiyah 5. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah 6. Tapak Suci Putra Muhammadiyah 7. Hizbul Wathan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar